Daftar Isi

Personality Disorder adalah Fase Awal Kegilaan

Recognizing the initial phase of Insanity by behavioral patterns


بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Kita hidup dalam masyarakat, di antara orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian (personality disorder) atau kita sendiri mungkin mengalaminya. Seseorang cepat merasa marah dan mengekspresikannya. Ada yang merasa cemas tak berujung dan depresi tak berkesudahan. Hal itu tentu memengaruhi aktivitas sehari-hari, terutama produktivitas kita yang menjadi tidak efisien. Mengenali pola perilaku dan kategorinya dalam gangguan kepribadian membuat kita dapat melakukan upaya penyembuhan dan penanganan yang tepat sebelum terlambat menjadi kegilaan dengan melihat jelas gejala dan fenomenanya. Beberapa hal seolah normal, tetapi sebenarnya tidak.


Sebelum membaca lebih lanjut, penulis membujuk pembaca untuk melihat secara mendalam dengan tidak dari satu sisi, tetapi dari berbagai sisi. Jika selama ini berasumsi bahwa “penyakit berasal dari sisi negatif”, coba balikkan asumsi tersebut. Mungkin awalnya sulit untuk berasumsi hal tersebut dari sisi positif, sulit melihat orang-orang mengalami kegilaan dalam “bungkus” kebaikan. Bukan berarti tulisan ini memprovokasi untuk berprasangka! Hubungi psikolog jika peka lingkungan.


Personality Disorder

Paranoid

Paranoid ditandai oleh ketidakpercayaan kepada orang lain dan “kecurigaan berlebih” bahwa orang di sekitarnya memiliki motif jahat. Cenderung memiliki kepercayaan berlebihan pada pengetahuan dan kemampuan mereka sendiri, biasanya menghindari hubungan dekat. Mereka mencari makna tersembunyi dalam segala sesuatu dan membaca niat bermusuhan ke dalam tindakan orang lain. Mereka suka menguji kesetiaan teman dan orang-orang terkasih, dan sering tampak dingin serta menjauh. Mereka biasanya suka menyalahkan orang lain dan cenderung membawa dendam lama.

  • Agresif dan gigih untuk hak-hak pribadi
  • Cenderung suka menyalahkan orang lain
  • Enggan memaafkan karena dianggap penghinaan
  • Merasa curiga dengan parah untuk setiap tindakan
  • Selalu mengantisipasi terhadap pengkhianatan
  • Sensitivitas (atau kepekaan) yang berlebihan
  • Sulit percaya selain kepada dirinya sendiri

Schizoid

Schizoid menghindari hubungan dengan orang lain dan tidak menunjukkan banyak emosi. Tidak seperti avoidant, schizoid benar-benar lebih suka menyendiri dan tidak menginginkan popularitas. Mereka cenderung mencari pekerjaan yang memerlukan sedikit kontak sosial. Keterampilan sosial mereka lemah dan mereka tidak menunjukkan perlunya perhatian atau penerimaan. Mereka dianggap tidak punya selera humor. Mereka juga sering disebut sebagai seorang “penyendiri” sejati.

  • Kesulitan mengekspresikan kemarahan walau diprovokasi
  • Lemah kemampuan interpersonal (hubungan antar manusia)
  • Mentalitas “penyendiri” dan selalu menghindari situasi sosial
  • Perspektif orang lain menganggapnya jauh dan tidak terikat
  • Tidak responsif oleh pujian, kritik, dan saran dari orang lain

Schizotypal

Banyak yang percaya bahwa schizotypal mewakili skizofrenia ringan. Ditandai oleh bentuk-bentuk pemikiran dan memahami dengan cara yang aneh, serta sering mencari isolasi sosial dari orang lain. Mereka terkadang percaya bahwa memiliki kemampuan indra yang ekstra atau kegiatan yang tidak berhubungan dengan mereka dalam beberapa kepentingan. Mereka umumnya berperilaku eksentrik dan sulit berkonsentrasi untuk waktu yang lama. Pidato mereka lebih “rumit” dan sulit untuk diikuti.

  • Bertakhayul (fenomena paranormal)
  • Tampak pemalu dan menarik dirinya
  • Perasaan cemas dalam situasi sosial
  • Perasaan curiga (takut) dan paranoia
  • Suka berpikir tentang hal-hal magis
  • Sulit untuk mengikuti pola bicara
  • Tingkah laku aneh atau eksentrik

Antisocial

Banyak yang salah mengira bahwa antisocial mengacu pada orang yang memiliki keterampilan sosial yang buruk. Sebaliknya, antisocial ditandai oleh kurangnya “hati nurani” dalam dirinya. Mereka rentan terhadap perilaku kriminal, percaya bahwa korban-korbannya lemah dan pantas dimanfaatkan. Cenderung suka berbohong dan mencuri. Bahkan, sering kali tidak berhati-hati dengan uang dan mengambil tindakan tanpa berpikir tentang konsekuensinya. Mereka sering agresif dan juga jauh lebih peduli dengan kebutuhan mereka sendiri daripada kebutuhan orang lain.

  • Berbohong, mencuri, dan perilaku kriminal lainnya yang merugikan
  • Impulsif dan tidak bertanggung jawab dalam mengambil keputusan
  • Kurangnya rasa penyesalan setelah merugikan orang lain
  • Mengabaikan keselamatan diri dan orang lain
  • Mengabaikan perasaan orang lain

Borderline

Borderline ditandai oleh ketidakstabilan suasana hati dan kekurangan citra diri. Mereka rentan terhadap perubahan suasana hati dan kemarahan yang konstan. Sering kali, mereka akan melampiaskan kemarahan kepada diri mereka sendiri; mencederai tubuh mereka sendiri (ancaman bunuh diri); dan tindakan yang tidak biasa. Batasan berpikir secara hitam dan putih sangatlah kuat, hubungan yang sarat dengan konflik. Mereka cepat marah ketika “harapan” mereka tidak terpenuhi.

  • Hubungan tidak stabil dengan teman dan keluarganya
  • Menyakiti dirinya sendiri (atau mencoba bunuh diri)
  • Penyalahgunaan narkoba dan minuman beralkohol
  • Perasaan marah yang kuat, cemas, dan depresi
  • Perasaan rendah harga diri
  • Perilaku impulsif

Histrionic

Histrionic adalah pencari perhatian yang konstan. Mereka perlu menjadi pusat perhatian setiap waktu dan sering mengganggu orang lain untuk mendominasi pembicaraan. Mereka menggunakan bahasa yang bertele-tele untuk menggambarkan kejadian sehari-hari dan mencari pujian konstan. Mereka suka berpakaian yang “memancing” atau “melebih-lebihkan” kelemahannya untuk mendapatkan perhatian. Mereka cenderung membesar-besarkan persahabatan dan hubungan, percaya bahwa setiap orang menyukai mereka. Mereka juga sering “manipulatif” dengan orang lain.

  • Berpakaian atau melakukan tindakan provokatif
  • Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian
  • Membesar-besarkan persahabatan
  • Mudah dipengaruhi atau dibujuk
  • Perubahan emosi yang cepat
  • Terlalu dramatis (lebay)

Narcissistic

Narcissistic ditandai oleh keterpusatan diri. Seperti histrionic, mereka senang mencari perhatian dan pujian. Mereka membesar-besarkan prestasinya, mengharapkan orang lain untuk mengakuinya sebagai seorang yang “superior”. Cenderung memilih-milih teman, karena mereka percaya bahwa tidak sembarang orang yang layak menjadi temannya. Mereka sering membuat kesan pertama yang baik, tetapi mengalami kesulitan dalam menjaga suatu hubungan jangka panjang. Mereka umumnya tidak tertarik dengan perasaan orang lain dan juga dapat mengambil “keuntungan” dari orang lain.

  • Berbohong pada diri sendiri dan orang lain
  • Membutuhkan pujian dan kekaguman berlebihan
  • Mengambil keuntungan dari orang lain
  • Merasa dirinya sendiri penting dan kurang empati
  • Terobsesi fantasi gaya hidup seiring zaman

Avoidant

Avoidant ditandai oleh kegelisahan sosial yang ekstrem. Mereka sering merasa “tidak cukup”, menghindari situasi sosial, dan mencari pekerjaan dengan sedikit kontak dengan orang lain. Mereka takut ditolak dan khawatir jika mereka mempermalukan dirinya sendiri di depan orang lain. Mereka membesar-besarkan potensi kesulitan dalam situasi baru untuk membuat orang berpikir agar menghindari situasi itu. Sering kali, mereka akan menciptakan dunia fantasi untuk pengganti yang asli. Tidak seperti schizoid, avoidant merindukan hubungan sosial, tetapi belum merasa mampu mendapatkannya. Mereka sering mengalami “depresi” dan memiliki kepercayaan diri yang rendah.

  • Keengganan dalam hubungan sosial dunia nyata
  • Keinginan untuk meningkatkan hubungan sosial
  • Kurang citra diri dan merasa tidak puas dalam kehidupan sosial
  • Menciptakan kehidupan fantasi yang rumit
  • Tampak sibuk sendiri dan tidak/kurang ramah
  • Takut dianggap memalukan, sehingga menghindari kegiatan baru
  • Terobsesi dengan penolakan atau kritikan dalam situasi sosial

Dependent

Dependent ditandai oleh kebutuhan untuk dijaga. Cenderung “bergantung” kepada orang lain dan merasa “takut kehilangan” mereka. Mereka mungkin akan bunuh diri ketika berpisah dengan orang yang dicintai. Cenderung untuk membiarkan orang lain mengambil keputusan penting bagi mereka dan sering melompat dari satu hubungan ke hubungan yang lainnya. Mereka sering bertahan dalam suatu hubungan, walaupun sering dikasari atau disakiti. Mereka merasa “tak berdaya” dan tertekan.

  • Berpikir ingin bunuh diri jika ditolak
  • Kesulitan dalam membuat keputusan
  • Merasa terpuruk jika dikritik atau ditolak
  • Perasaan tak berdaya saat sendiri (pasrah)
  • Tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya

Obsessive-compulsive

Obsessive-compulsive personality (OCPD) mirip dengan kecemasan obsessive-compulsive (OCD), tetapi keduanya sebenarnya berbeda. Jika OCD melakukan aksi tertentu secara berulang untuk meredakan kecemasannya pada satu aspek hidup tertentu (untuk mencegah suatu hal terjadi), sebaliknya OCPD terlalu fokus pada “keteraturan” dan “kesempurnaan” (perfeksionisme) yang bersifat menyeluruh dalam segala aspek hidupnya. Mereka harus melakukan segalanya dengan “benar” yang sering malah mengganggu produktivitas mereka. Mereka cenderung terjebak dalam hal-hal yang mendetail, tetapi kehilangan gambaran yang lebih besar. Mereka menetapkan standar yang tinggi yang tidak masuk akal untuk dirinya sendiri dan orang lain. Cenderung sangat “kritis” terhadap orang lain ketika mereka tidak hidup dengan standar yang tinggi. Mereka menghindari bekerja dalam tim, percaya bahwa orang lain terlalu ceroboh atau tidak kompeten. Mereka menghindari membuat keputusan, karena mereka takut membuat kesalahan. Mereka jarang murah hati dengan waktu atau uang. Mereka sering mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi.

  • Keras kepala atau sulit menerima pendapat orang lain
  • Kurang murah hati demi kepentingannya sendiri dan orang lain
  • Mencari kesempurnaan, ketertiban, dan kedisiplinan yang berlebihan
  • Mendedikasikan pekerjaan (kerja keras), sehingga mengabaikan hubungan sosial
  • Sangat kaku, dan tidak fleksibel terhadap nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan
  • Terlalu fokus pada detail dan keteraturan, sehingga tugas utamanya tidak terselesaikan
  • Tidak dapat mempercayakan pekerjaan kepada orang lain, kecuali dengan standar sama persis

Fase Awal Kegilaan

Mereka yang mengalami gangguan kepribadian merupakan fase awal menuju kegilaan. Artinya, jika tidak ditangani dengan baik dan sedini mungkin maka potensi gangguan tersebut dapat meningkat menjadi kegilaan kompleks. Pemikiran yang tidak realistis ialah salah satu pendorong fase tersebut.

Sering kali, seseorang berpikir tidak realistis (pesimis) bahwa:

  1. bernasib buruk dan memiliki masa depan suram;
  2. besok akan terjadi sesuatu yang buruk;
  3. orang lain punya niat/motif jahat;
  4. yakin akan segera mati, dll.

Selanjutnya, pemikiran yang terbentuk dari asumsi tersebut mulai dipercayai secara penuh sebagai kebenaran. Apalagi didukung dari berbagai kebetulan acak yang terlihat dengan jelas karena fokus pikiran itu sendiri. Kondisi tersebut akan terus mendorong perubahan sikap dan perilaku pelakunya.

Mulai sekarang, cobalah mulai berpikir terbalik! Mengubah posisi dari sisi negatif menuju sisi positif.

Memasuki fase berpikir (optimis) bahwa:

  1. bernasib baik dengan menyikapi kegagalan untuk tidak mengeluh dan memperbaikinya;
  2. besok akan terjadi sesuatu yang baik dengan ramah dan tersenyum;
  3. orang lain mendukung dan mencintai kita dengan tulus;
  4. yakin dengan apa yang dijalani dengan semangat.

Setiap tindakan tergantung apa yang tertanam di dalam dada, “Trance adalah Kondisi Super Sadar”.


Seseorang yang berpikir realistis tidak akan berlebihan terhadap sesuatu, menerima, dan bersyukur dengan kenyataan yang ada. Sedangkan pemikiran yang tidak realistis cenderung berpikir secara idealistis, atau berkeinginan kuat dan bertindak (teguh pada pendirian) untuk mencapai hasil yang maksimal sesuai idealnya. Meski idealistis sebenarnya baik karena tidak mudah terpengaruh dengan orang lain, tetapi itu juga dapat menyakiti diri sendiri karena terlalu percaya diri dan bermimpi. Tak sedikit orang yang idealis mengesampingkan nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan untuk mencapai idealnya. Seseorang yang benar-benar idealis tetap akan menjadi idealis, walau terkadang bersikap pragmatis (berpikir praktis dengan mengikuti orang lain) terhadap permasalahan tertentu.

Kenyataannya, semua orang pernah bermimpi. Ketika masih anak-anak pasti pernah menjadi idealis, semua anak pasti punya dunia impiannya masing-masing. Lalu seiring dengan bertambahnya umur, mereka akan menjadi orang dewasa yang sudah tersadarkan oleh kerasnya hidup. Beberapa di antaranya berubah menjadi realis, beberapa lagi berubah menjadi pragmatis yang mengikuti jalan pikiran orang lain, dan tak sedikit pula ada yang terus bermimpi dan memegang teguh pendiriannya.



Setiap orang memiliki cara dan jalan hidupnya masing-masing. Kita tidak bisa mengubah cara hidup orang lain, kita hanya bisa mengubah cara hidup diri kita sendiri. Punya visi hidup dan pendirian itu penting, tetapi berpikir realistis juga perlu. Kita juga perlu bantuan orang lain, sehingga mengikuti arus itu perlu, tetapi juga diimbangi dengan tetap berpegang teguh pendirian masing-masing. Pemimpin-pemimpin hebat memiliki idealismenya sendiri. Seorang idealis bisa mengubah dunia. Dunia mungkin tidak akan seperti sekarang jika tidak ada idealis. Kita tidak akan bisa mengubah dunia hanya dengan bermimpi tanpa melihat kenyataan dan menggerakkan orang lain. Kerja cerdas!


Petik juga pembelajaran hidup dari kisah tragis seorang penulis Jepang (pesimistis), Osamu Dazai.

جَزَاكُمُ ٱللَّٰهُ خَيْرًا